Kalian pernah ada di fase ini gak? Di mana ketika kamu rasanya ingin menarik diri dari tengah keramaian. Padahal kamu yang datang sendiri ke sana, tanpa ada ajakan dan dorongan siapapun.
Kalau kamu belum pernah, selamat ya, karena kamu adalah orang paling beruntung yang dikelilingi oleh orang-orang baik dan sefrekuensi denganmu. Kamu baiknya bersyukur, karena banyak orang lain yang tidak seberuntung kamu yang memiliki circle pertemanan di kehidupannya.
Mereka yang sering berteman sepi, hanya bercengkerama dengan pikirannya sendiri.
Pindah Rumah dan Tantangan Menjadi Introvert di Lingkungan Baru
Fase ini pernah aku rasakan, bahkan mungkin makin terasa dalam di beberapa bulan terakhir (atau mungkin tahun). Bermula dari pindah ke tempat baru, di mana aku berharap bisa menemukan circle pertemanan baru dengan orang-orang baik lainnya seperti yang sebelumnya pernah aku dapati di tempat lama. Tanpa melupakan mereka tentunya, tapi tetap pada keyakinanku sepertinya aku butuh lingkungan pertemanan sehat yang baru untuk terus bertumbuh.
Namun untuk seseorang yang punya tembok penilaian berlapis, ternyata membangun pertemanan baru itu lebih sulit ya?
Agak canggung gitu ketika memperkenalkan diri dengan membawa identitas lain selain diri sendiri. Misal, aku bukan hanya seorang Ayu, tapi juga istri si Fulan dan ibunya Fulan, menantunya bu Fulanah. Menggendong nama orang lain, di belakang identitas pribadi itu berat juga yah. Dilan aja kayaknya ga kuat deh.
Kurang lebih karena alasan itulah, akhirnya aku jadi sering menarik diri dari pertemuan-pertemuan kecil seperti lingkungan sekolah anakku. Sebab, di sana ada teman kecil suami, teman renangnya ibu mertua, tetangga di rumah.
Aku jadi merasa perlu menjaga imej, sebagai perempuan tenang yang brandingan-nya kalem. Padahal sebenarnya aku ingin mengeluarkan jiwa srimulatku di depan orang banyak. Hahaha.
Saat "Super Introvert" Mulai Merasa Lupa Cara Bersosialisasi
Jadi terkadang aku lupa bagaimana cara bersosialisasi dengan kawan yang secara intens. Di kajian pun, karena circlenya sekarang adalah ibu-ibu dan nenek-nenek jadi lebih sering mendengarkan ketimbang bicara. Sungkan kalau menyampaikan pendapat, takut ditolak dan disanggah. Lewat refleksi ini aku jadi merasa yang sebelumnya aku introvert malah semakin super introvert.
Menurut kalian, apakah aku sudah perlu ke psikolog? Karena bahkan di fase pendiamku saat ini aku sudah jarang sariawan lho?! (Apa hubungannya?) wkwkwk. Maksudnya, sekalipun aku diam, tapi aku sehat. (Apalagi ini maksudnya?). Hahaha.
Kadang aku punya cita-cita mendorong diriku untuk menjadi sedikit lebih ekstrovert. Di suatu pertemuan orang tua murid, aku sudah berusaha untuk sedikit lebih banyak bicara dan bercerita. Pokoknya 'gak gue banget' deh. Tapi begitu sampai di rumah, aku merenung lumayan lama.
"Apa tadi aku terlalu banyak bicara ya?"
"Aku tadi oversharing gak sih?"
"Mudah-mudahan ga dianggap 'cringe' ya sama yang lain"
Jujyuuur takoed!
Tapi ya sudahlah, setidaknya aku sudah berusaha semaksimal mungkin, ini patut banget diapresiasi lhoooo usahaku. Semoga aku bisa mengingat kembali cara bersosialisasi yang baik dan benar yah. Takut banget sendirian. Huhuhu.
Hmm, jadi kepikiran deh,
btw tulisanku akhir-akhir ini oversharing gak sih?
Apa aku sudah bukan lagi introvert, tapi semi sosial-anxiety gak sih? Eits ga boleh self-diagnosis.
Dih kan mulai lagi,
KAYAK YANG YAKIN BANGET TULISAN INI BAKAL DIBACA ORANG SIH YUUUU, ampun deh.
Ayulinsar | Masih di Condet, 20 Juni 2026

















